Tes Thomas: Tujuan, Prosedur, dan Interpretasi Klinis

7 Agustus 2026

Apa yang Diukur oleh Tes Thomas

Tes Thomas digunakan untuk mendeteksi pemendekan otot fleksor pinggul, dengan fokus pada otot iliopsoas dan rectus femoris. Otot iliopsoas melintasi sendi pinggul, sedangkan otot rectus femoris melintasi baik sendi pinggul maupun lutut. Membedakan kedua otot tersebut membantu fisioterapis memilih latihan mobilitas dan intervensi lain yang ditujukan pada struktur yang paling mungkin membatasi gerakan.

Para ahli klinis umumnya menggunakan tes ini saat memeriksa ekstensi pinggul dan hubungannya dengan posisi panggul, mekanika tulang belakang lumbal, atau pola berjalan. Panjang otot fleksor pinggul yang terbatas dapat memengaruhi kemiringan panggul ke depan, ekstensi lumbal, dan kemampuan untuk mengekstensi pinggul saat berjalan atau berlari. Tes Thomas memberikan satu temuan dalam pemeriksaan yang lebih luas tersebut dan sebaiknya dipertimbangkan bersamaan dengan pengukuran rentang gerak, pengujian kekuatan, pengamatan gerakan, serta gejala yang dialami pasien.

Prosedur Langkah demi Langkah

  1. Atur posisi pasien. Minta pasien untuk berbaring telentang dengan panggul sejajar dan kedua kaki terentang. Dukung kepala jika diperlukan, tetapi hindari fleksi batang tubuh yang berlebihan sehingga mengubah posisi lumbar atau panggul.

  2. Periksa posisi awal. Letakkan satu tangan di bawah tulang belakang lumbal pasien atau perhatikan tonjolan iliak superior anterior. Panggul harus tetap dalam posisi netral, tanpa adanya ekstensi lumbal yang berlebihan atau kemiringan panggul ke depan.

  3. Tekuk kedua pinggul. Minta pasien untuk mendekatkan kedua lutut ke arah dada hingga tulang belakang lumbar menempel rata pada meja. Fleksi pinggul seharusnya menghasilkan kemiringan panggul ke belakang, bukan memaksa lutut untuk ditarik sejauh mungkin.

  4. Kencangkan kaki yang tidak diuji. Minta pasien untuk menempelkan lutut yang tidak diuji ke dada. Anda dapat membantu menahan lutut tersebut sambil menggunakan tangan yang lain untuk memantau panggul. Menjaga pinggul ini tetap tertekuk membantu mencegah ekstensi lumbal yang dapat menyamarkan keterbatasan ekstensi pada sisi yang diuji.

  5. Turunkan kaki yang sedang diperiksa. Arahkan paha yang sedang diperiksa secara perlahan ke arah meja sambil memastikan lutut tetap rileks dan tertekuk. Hentikan jika panggul mulai miring ke depan, tulang belakang lumbal terangkat, atau pasien mengeluhkan rasa sakit. Jangan menekan paha ke bawah setelah gerakan panggul mulai terjadi.

  6. Perhatikan posisi akhir. Pada ekstensi pinggul netral, bagian belakang paha mendekati meja sementara panggul dan tulang belakang lumbal tetap stabil. Perhatikan ketinggian paha yang diuji relatif terhadap meja dan catat sudut fleksi lutut. Perhatikan juga apakah pinggul bergerak ke arah abduksi atau rotasi eksternal saat kaki turun.

  7. Bandingkan kedua sisi dalam kondisi yang sama. Kembalikan kedua kaki ke posisi awal sebelum menguji sisi yang berlawanan. Gunakan stabilisasi panggul, kecepatan penurunan, dan posisi meja yang sama agar perbandingan antar sisi tetap bermakna.

Menafsirkan Hasil

Hanya gerakkan anggota tubuh yang diuji, sementara pinggul sebelahnya menjaga stabilitas panggul dan tulang belakang lumbal tetap dalam posisi netral. Kemiringan panggul ke depan atau ekstensi lumbal dapat membuat paha menyentuh meja meskipun ekstensi pinggul terbatas.

  • Hasil tes negatif: Paha yang diuji menyentuh meja tanpa adanya abduksi atau rotasi pinggul, dan lutut tetap dalam posisi fleksi sekitar 80 hingga 90 derajat.

  • Tanda adanya kekakuan otot iliopsoas: Paha yang diuji tetap berada di atas meja sementara lutut tetap dalam posisi tertekuk. Terbatasnya ekstensi pinggul menandakan adanya pembatasan pada otot iliopsoas ketika posisi panggul tetap terkendali.

  • Tanda adanya kekakuan pada otot rektus femoris: Paha yang diuji dapat menyentuh meja, tetapi lututnya melampaui posisi fleksi yang diharapkan. Karena otot rektus femoris melintasi sendi pinggul dan lutut, berkurangnya fleksi lutut selama ekstensi pinggul meningkatkan tegangan pada otot tersebut.

  • Menunjukkan adanya kekakuan gabungan pada otot iliopsoas dan rektus femoris. Paha yang diuji tetap berada di atas meja, dan lutut juga bergerak menuju posisi ekstensi. Baik ekstensi pinggul maupun fleksi lutut mengalami keterbatasan.

Pemeriksa juga mungkin mengamati paha bergerak ke arah abduksi atau rotasi eksternal. Abduksi dapat mengindikasikan adanya keterbatasan pada otot tensor fasciae latae atau pita iliotibial, sedangkan kombinasi abduksi dan rotasi eksternal mungkin melibatkan otot sartorius. Pola-pola gerakan ini mendukung hasil pemeriksaan, namun tidak dapat mengidentifikasi satu struktur tertentu dengan pasti.

Nyeri, kekakuan sendi, reaksi pertahanan otot, atau kontrol panggul yang buruk juga dapat menimbulkan hasil positif semu. Seorang fisioterapis sebaiknya membandingkan kedua sisi dan menafsirkan hasil Tes Thomas bersamaan dengan pengukuran rentang gerak, temuan pola berjalan, serta hasil pemeriksaan pinggul dan punggung bawah lainnya.

Tes Thomas yang Dimodifikasi

Pada Tes Thomas yang Dimodifikasi, kaki yang diuji diletakkan melampaui ujung meja pemeriksaan sehingga pinggul dan lutut dapat bergerak bebas di bawah pengaruh gravitasi. Sebagai perbandingan, pada tes klasik, kaki yang diuji tetap ditopang di atas meja sementara pasien menarik lutut sisi sebaliknya ke arah dada. Pengaturan yang dimodifikasi ini membuat ekstensi pinggul dan fleksi lutut lebih mudah diamati dan diukur.

Untuk versi yang dimodifikasi, pasien duduk di dekat tepi meja, menarik kedua lutut ke arah dada, lalu berguling ke posisi telentang. Pasien terus memegang lutut sisi yang berlawanan sambil menurunkan kaki yang diuji ke atas tepi meja. Pemeriksa menjaga panggul tetap dalam posisi netral dan mencegah ekstensi lumbar atau kemiringan panggul ke depan menggantikan ekstensi pinggul.

Para praktisi medis sering kali memilih versi yang dimodifikasi ini ketika mereka memerlukan pengukuran terpisah untuk panjang otot iliopsoas dan rectus femoris. Paha yang tetap berada di atas garis horizontal mengindikasikan kekakuan otot iliopsoas. Paha yang mencapai posisi netral sementara lutut terentang melampaui posisi fleksi yang diharapkan mengindikasikan kekakuan otot rectus femoris. Gerakan ke samping atau rotasi eksternal mungkin menandakan keterlibatan struktur pinggul anterior atau lateral lainnya.

Interpretasi klinis mengikuti logika umum yang sama dengan tes klasik, namun posisi menggantung memungkinkan pengukuran sudut yang lebih langsung. Para klinisi sebaiknya menggunakan posisi meja, pengendalian panggul, dan metode pengukuran yang sama selama tes tindak lanjut karena perbedaan pengaturan dapat mengubah nilai sudut yang tercatat.

Mencatat Temuan dalam Catatan Evaluasi

Catat versi tes, sisi, hasil, struktur yang diduga, dan sudut-sudut yang diukur. Tentukan apakah paha menyentuh meja dan catat sudut fleksi lutut dengan menggunakan titik acuan yang sama pada setiap penilaian ulang. Catat pergerakan panggul atau gejala jika hal tersebut memengaruhi pengukuran.

Catatan singkatnya bisa berbunyi, “Tes Thomas yang dimodifikasi, sisi kanan, hasil positif menunjukkan ketegangan otot iliopsoas. Paha tetap berada 8° di atas meja dengan fleksi lutut 85°. Sisi kiri negatif.” Untuk keterlibatan otot rektus femoris, Anda bisa menulis, “Tes Thomas yang dimodifikasi, sisi kiri, hasil positif menunjukkan ketegangan otot rektus femoris. Paha menyentuh meja, tetapi lutut terentang hingga fleksi 55°.”

Metode penentuan posisi dan pengukuran yang konsisten membuat perubahan dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya lebih mudah diinterpretasikan. Tenaga medis yang menggunakan Physitrack untuk program latihan di rumah dapat membandingkan hasil Uji Thomas berturut-turut dalam catatan evaluasi dengan kepatuhan terhadap latihan, tingkat nyeri, dan laporan kesulitan selama rencana perawatan.

Keandalan, Validitas, dan Penggunaan Umum

Seberapa andal dan validkah Tes Thomas?

Keandalan menggambarkan konsistensi pengukuran, sedangkan validitas menggambarkan apakah suatu tes mengukur gangguan yang dimaksudkan. Untuk Tes Thomas dan Tes Thomas yang Dimodifikasi, pengendalian posisi panggul oleh pemeriksa serta penempatan titik acuan yang konsisten sangat memengaruhi kedua aspek tersebut. Temuan yang dipublikasikan bervariasi, sehingga para klinisi sebaiknya menggabungkan tes ini dengan pengukuran rentang gerak dan pemeriksaan yang lebih menyeluruh, alih-alih menggunakannya sebagai diagnosis tunggal.

Apakah Tes Thomas berguna dalam evaluasi nyeri punggung bawah?

Evaluasi nyeri punggung bawah meneliti faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap gejala atau kompensasi gerakan. Tes Thomas digunakan untuk mendeteksi apakah keterbatasan ekstensi pinggul mungkin berkaitan dengan peningkatan gerakan panggul atau lumbal. Hasil positif dapat menjadi dasar untuk penilaian mobilitas pinggul lebih lanjut, namun hasil tersebut tidak dapat secara langsung mengidentifikasi sumber nyeri punggung bawah.

Kapan tes tersebut digunakan dalam penilaian gaya berjalan?

Penilaian gaya berjalan bertujuan untuk mengidentifikasi gangguan yang mungkin memengaruhi mekanika berjalan. Bagi pasien yang tidak mencapai ekstensi pinggul sesuai harapan pada fase akhir tumpuan, Tes Thomas dapat digunakan untuk mendeteksi kekakuan otot fleksor pinggul sebagai salah satu faktor penyebab yang mungkin. Temuan ini membantu tenaga medis memutuskan apakah perlu mengukur ekstensi pinggul secara lebih teliti dan membandingkannya dengan pola berjalan yang diamati.